Monday, April 20, 2009

Microsoft Segera Rilis Office 2010


Akhirnya Microsoft mengumumkan kehadiran office "gress" nya pada pertengahan April ini, Microsoft mengumumkan kalau office 2010-nya akan siap untuk dikirim ke manufaktur dan siap untuk dipasarkan pada pertengahan 2010 mendatang.

Microsoft mengungkapkan bahwa Office 2010 ini sebelumnya dikenal dengan nama Office 14. Sedikit ditarik ke belakang, yaitu tahun lalu, tepatnya di bulan Oktober 2008, isu tentang Microsoft yang akan menggelontor Office berbasis web telah beredar. Pada saat itu, kehadiran Office 14 disebut-sebut sebagai kode produk terbaru Microsoft untuk office suite ter-anyarnya. "Kami akan mendesain ulang office agar dapat berjalan melalui sebuah browser," kata Steve Ballmer (CEO Microsoft) pada Oktober 2008 silam.

Office 14 a.k.a Office 2010 ini mengusung versi yang lebih ringan dari Ms. Word, Excel, PowerPoint dan OneNote, sehingga memungkinkan pengguna untuk membuat dan mengedit dokumen langsung dalam sebuah browser web. Dalam hal ini, pengguna pun dapat mengakses office 2010 secara gratis serta didukung oleh adanya iklan.

Microsoft juga menambahkan bahwa office terbarunya ini akan datang dalam versi 32-bit dan 64-bit. "Ya, Office 2010 akan memiliki dua versi yang terpisah, 32-bit dan 64-bit. Office 2010 akan menjadi yang pertama dalam melakukan hal ini," kata juru bicara Microsoft.

Chris Caposella (wakil presiden senior Microsoft yang membuat office 2010), mengatakan waktunya akan berbeda untuk konsumen individu dan pelaku bisnis besar, untuk pengguna yang membeli paket software dan pengguna yang hanya mengunduh office 2010.

Beberapa pengamat industri terkait sebenarnya telah mengharapkan kehadiran office 2010 di tahun 2009 ini. Namun Steve Ballmer segera menepis isu tersebut pada Februari lalu. Caposella juga belum mau menyebutkan tanggal pasti perihal peluncuran Windows 7 yang dijadwalkan sampai di bulan Januari 2010.

Saturday, April 18, 2009

Prosesor Yang Terbaik : Atom, Nano Atau AMD?


Keunggulan prosesor memang menjadi salah satu pilihan utama kita dalam memilih hardware untuk komputer ataupun notebook kita. Memang hal ini bisa dikatakan seperti itu bagi Anda yang paling tidak mengerti mengenai isi dari sebuah perangkat komputer. Tak bisa disamakan antara kebutuhan seorang yang menggunakan komputer hanya untuk mengetik dan bagi mereka yang menggunakannya untuk pekerjaan desain dan sebagainya. Tentu hal ini bertumpu pula pada kekuatan dan keunggulan prosesor tadi. Nah, Anda menggunakan prosesor apa saat ini?

Atom memang rajanya prosesor netbook, tapi tak bisa kita remehkan juga prosesor Via Nano ataupun Athlon Neo besutan AMD. Di sebuah pengujian benchmark, ketiga-tiganya dites satu persatu untuk mengetahui mana prosesor yang terbaik sebenarnya. Ternyata hasilnya sama sekali tak membidik salah satu dari prosesor manapun, melainkan ketiga-tiganya. Lho?!

Ya, dari hasil pengujian tersebut didapatkan bahwa Atom N280 terbaik dalam hal multi-tasking, sedangkan untuk Nano U2250 paling baik dalam encoding iTunes, dan Neo MV-40 menjadi yang paling cepat dalam pengujian Jalbum-benchmark. Nah, keliatan dong kalau dari ketiga prosesor tersebut memang menjadi pemenang dan memiliki nilai yang berbeda-beda pula. Nah, jadi tak usah bingung lagi mencari prosesor yang terbaik buat Anda, ketiga-tiganya sama-sama unggul, tinggal mana yang menurut pilihan Anda yang paling cocok dengan kebutuhan Anda saja. Benar begitu bukan?

Saturday, March 28, 2009

Google Chrome Paling Tahan Serangan Hacker


Chrome menjadi browser yang paling tahan dari serangan hacker tahun ini. Setidaknya itulah hasil Pwn2Own, sebuah kompetisi yang menguji pakar keamanan jaringan untuk dapat menembus sistem keamanan pada tanggal 16-20 Maret dalam kegiatan CanSecWest Security Conference di Vancouver, Kanada.

Pada kompetisi tahun ini, Charlie Miller yang juga pemenang perlombaan tahun lalu berhasil membobol sistem keamanan Safari hanya dalam waktu 10 detik saja. Diakui oleh analis keamanan di Independent Security Evaluators ini, bahwa sebenarnya ia sudah menemukan celah pada sistem Safari sejak tahun lalu.

Walau melalui proses yang cukup sulit, si penyerang dapat langsung menyerang keamanan hanya dengan menunggu saat si pengguna komputer meng-klik suatu link pada url jahat. Pada kompetisi itu juga, IE8 dan Safari dapat ditembus sistem keamanannya. Firefox dan IE8 juga tembus dalam waktu 12 jam.

Sedangkan untuk Chrome, para peserta sebenarnya sudah mampu menemukan sebuah bug pada sistem keamanannya. Namun, bug tersebut tidak dapat dieksploitasi lebih lanjut karena browser tersebut memiliki feature Sandbox. Ditambah pula adanya kerjasama dengan sistem operasi untuk memberikan perlindungan terbaik.

Kemenangan Chrome cukup mengejutkan karena browser tersebut baru diluncurkan pada paruh terakhir tahun lalu. Portofolio Google Chrome juga bertambah setelah mendapatkan animo besar sehingga tercatat sebagai software paling banyak didownload dalam 24 jam dan langsung merebut pangsa pasar 1 persen.

Pwn2Own tahun ini, kompetisi dibagi menjadi dua kelas teknologi, yaitu web browser dan mobile phone. Kompetisi ini disponsori oleh TippingPoint, sebuah perusahaan keamanan jaringan. Web browser yang diperlombakan pada kompetisi tahun ini adalah Internet Explorer 8, Firefox, Chrome, dan Safari. Sedangkan untuk mobile phone yang dipertandingkan adalah Blackberry, Android, iPhone, Nokia/Symbian, dan Windows Mobile.

Hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, yaitu 5000 dollar AS per bug pada web browser, dan 10.000 dollar AS per bug pada mobile phone. Peserta juga dapat membawa pulang laptop yang digunakan untuk menjebol sistem keamanan secara gratis, yakni Sony Vaio atau Macbook asalkan peserta tersebut menjadi orang pertama yang dapat menunjukkan bug.

Para peserta juga diharuskan untuk menandatangani perjanjian, yang menyatakan bahwa mereka tidak boleh menyebarluaskan bug yang mereka temukan. Dengan perlombaan ini, diharapkan para developer web mampu mengetahui bug apa saya yang ada pada web browser mereka dan segera menambah celah yang ada.

Saturday, March 21, 2009

Kepler dan Pencarian Saudara Semesta


Jumat tanggal 6 Maret pukul 03.50 GMT, atau pukul 10.50 WIB, sebuah roket Delta II tinggal landas dari Stasiun Angkatan Udara Tanjung Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Di pucuk roket Delta ini terdapat sebuah instrumen yang amat penting, yakni Teleskop Kepler. Peluncuran berjalan mulus, dan sejam kemudian, Kepler terpisah seluruhnya dari tingkat tiga roket peluncur seperti direncanakan.

Misi Kepler adalah untuk menemukan planet di luar tata surya yang menyerupai Bumi. Jadi, yang akan dicari Kepler adalah planet kecil (tidak sebesar Jupiter atau Saturnus) dan berbatuan, yang mengorbit bintang induk (seperti Matahari) dengan jarak yang tepat. Artinya, jarak tersebut tidak terlalu dekat sehingga air mendidih, tetapi juga tidak terlalu jauh sehingga air membeku. Jarak yang ideal bagi kehidupan ini sering disebut sebagai ”Zona Bisa Didiami” (habitable).

Sejauh ini petunjuk soal adanya planet yang menyerupai Bumi tak banyak diperoleh karena penyelidikan yang dilakukan tidak cukup peka untuk menemukan planet seperti itu. Teleskop Kepler diharapkan mampu menjawab tantangan ini.

Menjelang peluncuran, Ilmuwan Kepala (Proyek) Kepler William Borucki di Pusat Riset Ames milik NASA di Moffett Field, California, mengatakan, ”Kalau ada banyak Bumi di luar sana, boleh jadi juga ada banyak kehidupan di sana - dan barangkali juga bahkan peradaban asing di sana yang menunggu kontak kita.”

Sebelum ini memang sudah ditemukan planet-planet yang ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan Bumi. Yang satu ditemukan oleh teleskop-teleskop di Bumi dengan menggunakan teknik lensa gravitasi dan lainnya ditemukan oleh Satelit Corot yang dijuluki ”Pengamat Makhluk Asing Eropa”. Corot diluncurkan tahun 2006 dan misinya adalah mengamati bintang yang kecerlangannya susut karena diduga ada planet yang lewat di depannya.

Selain itu, juga sudah diketahui dua planet yang diduga berbatu dengan ukuran beberapa kali massa Bumi yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581, dan salah satunya mungkin ada di Zona Bisa Didiami, meski di perbatasan.

Gregory Laughlin, ilmuwan di Universitas California, Santa Cruz, yang memimpin riset planet-planet transit, mengakui bahwa deteksi planet terestrial seukuran Bumi yang punya orbit bisa didiami masih belum ada.

Sebelum ini, penemuan sebagian besar planet luar tata surya (exoplanet) dilakukan dengan teknik kecepatan radial, yaitu dengan mengamati spektrum cahaya bintang untuk melihat apakah ada gerak maju dan mundur periodik yang disebabkan oleh tarikan gravitasi planet-planet bintang tersebut. Metode ini belum cukup sensitif untuk mendeteksi planet sekecil Bumi.

Kepler dirancang untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan menerapkan metode planet transit. Teleskop ini akan memonitor 100.000 bintang dan mengukur adanya peredupan periodik, yang diartikan sebagai akibat adanya planet yang lewat di depannya. Hal ini akan dilakukan secara terus-menerus selama 3,5 tahun.

Lalu, berbeda dengan Corot yang mengorbit Bumi, Kepler akan mengorbit mengelilingi Matahari. Ini akan membuat pandangannya ke langit lebih tidak terhalang oleh Bumi.

Didukung oleh lensa yang lebih besar, dengan ukuran 95 cm, Kepler akan mampu melihat planet dengan ukuran setengah Bumi atau seukuran Mars.

Belum bisa dipastikan berapa banyak planet seukuran Bumi yang bakal ditemukan oleh Kepler. Tapi apa pun, Kepler akan menjadi acuan baru dalam perburuan planet. Kalau memang planet seperti Bumi ternyata merupakan hal umum, maka beberapa di antaranya diperkirakan mengelilingi bintang induknya pada jarak cukup dekat. Misi berikut akan memeriksa apakah ada oksigen di sana, juga petunjuk lain yang mengisyaratkan adanya kehidupan.

Badan ruang angkasa AS (NASA) dan Eropa (ESA) sedang menggodok dua misi yang disebut Terrestrial Planet Finder dan Darwin yang diupayakan bisa meluncur sebelum tahun 2020. Misi ini dimaksudkan untuk bisa mengukur cahaya dari planet extrasolar di orbit bisa didiami. Sasaran utama adalah mengukur spektrum cahaya yang melewati atmosfer planet itu, apakah ada jejak oksigen atau bahan kimia lain yang mengindikasikan adanya kehidupan.

Mengikuti perkembangan sains di atas, tampak bahwa negara maju terus mengembangkan program-program untuk memajukan ilmu pengetahuan, meski dewasa ini kondisi ekonomi pada umumnya buruk.

Diakui, proyek seperti Kepler menelan biaya ratusan juta dollar, tetapi ia dipersiapkan secara baik, dan diyakini tujuannya, sehingga tetap dijalankan meski mahal. Tidak berhenti sampai di Kepler, ini juga sudah dipikirkan untuk meluncurkan Proyek Darwin guna mencari kehidupan di planet extrasolar.

Tampak visi untuk unggul dan maju - juga sebagai persiapan untuk menguasai teknologi penjelajahan angkasa masa depan - tidak ditinggalkan begitu saja. Kita tentu belum bisa sepenuhnya meniru langkah negara maju. Tetapi, setidaknya semangat ilmiah yang diperlihatkan oleh bangsa-bangsa tersebut juga bisa menginspirasi kita.

Mereka tak gentar dengan risiko karena dari misi Kepler ini, bisa juga mereka tidak menemukan planet seperti Bumi yang dicari. Tetapi, itu tidak mengecilkan hati karena pasti ada hasil lain yang diperoleh.

Borucki menyimpulkan, kalau Kepler menemukan banyak Bumi di galaksi, kondisi yang mendukung kehidupan merupakan hal biasa. Tetapi, kalau tidak ada Bumi pada bintang tersebut, bisa berarti bahwa kita sendirian di alam semesta ini tanpa ada saudara semesta.

Tuesday, March 17, 2009

Mouse Optik Ganggu Kesehatan


Untuk memudahkan penggunaannya, komputer dilengkapi dengan mouse. Saat ini mouse dengan sistem kerja optik menjadi jawaban untuk memudahkan kita saat mengarahkan kursor ke arah program yang diinginkan lewat layar monitor. Tetapi siapa sangka, benda kecil yang mudah digenggam ini dapat memberikan dampak kurang bagus kepada penggunanya.

Umumnya, dampak seperti ini tidak akan mudah dirasakan. Sebab, kebanyakan pengguna komputer merasa lebih nyaman daripada menggunakan shortcut dari keyboard secara langsung. Ternyata kenyamanan pengoperasian mouse optik membawa efek samping yang membahayakan pengguna.

Tiga tahun setelah Microsoft meluncurkan mouse optik pertama, diketahui ada ribuan kasus kelainan pada jaringan tangan pengguna akibat radiasi yang dipancarkan benda kecil yang biasanya mengeluarkan cahaya ini. Telapak tangan merupakan salah satu pusat ujung syaraf yang tersambung ke seluruh tubuh.

Bisa dipahami, mengingat daya kerja mouse optik memancarkan gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi ke bagian permukaan di bawahnya. Bahkan frekuensi yang digunakan lebih tinggi daripada ponsel. Menurut pengamatan WHO, radiasi dari mouse lima kali lebih tinggi daripada radiasi akibat frekuensi HP. Makin berbahaya jika mouse optik dipegang terus-menerus oleh pengguna.

Sayangnya, dampak tersebut hingga kini jarang dirisaukan manusia, karena efek nyatanya baru dirasakan setelah beberapa tahun ke depan, atau seberapa sering ia mengoperasionalkan mouse optik. Apalagi banyak anggapan bahwa dampak itu hanya terjadi pada mouse optik berkualitas rendah dan berharga murah.

Banyak pengguna merasa aman memakai mouse optik berkualitas bagus, yang telah menggunakan pelindung (shield). Opini ini sebenarnya bukan jaminan, karena belum ada penelitian khusus untuk mengetahui akibat nyata dari pemakaian mouse jenis ini.

Tak mau gambling dengan kesehatan akibat penggunaan muose optik yang cukup mengkhawatirkan ini, perusahaan besar seperti Green Peace, kantor berita CNN, dan kantor WHO sejak medio 2008 menghentikan penggunaan mouse optik untuk seluruh kegiatan di kantornya.
 
http://farm4.static.flickr.com/3644/3364703434_73a3e5ec67.jpg